
Namun, masalahnya berbeda ketika “diam” berubah menjadi cara untuk terus-menerus menghindari masalah.
Masalah yang tidak dibicarakan, emosi yang terus ditekan, konflik yang tidak pernah diselesaikan, atau pengalaman menyakitkan yang selalu berusaha dilupakan tidak serta-merta hilang hanya karena tidak dibicarakan. Dalam beberapa kondisi, masalah tersebut justru dapat terus memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan emosi, berperilaku, dan berhubungan dengan orang lain.
Dalam perspektif psikologi klinis, pola penghindaran yang menetap dapat menjadi salah satu faktor yang mempertahankan atau memperburuk tekanan psikologis. Bukan berarti setiap masalah yang didiamkan pasti menyebabkan gangguan mental. Namun, ketika seseorang terus menghindari pengalaman yang sulit tanpa pernah memprosesnya, dampaknya dapat semakin luas.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (22/10), terdapat enam alasan mengapa terlalu lama mendiamkan suatu masalah dapat berbahaya secara psikologis.
1. The Problem Does Not Disappear, But May Actually Become Larger in the Mind
Salah satu alasan utama mengapa diam terhadap masalah dapat menjadi tidak sehat adalah karena manusia tidak selalu bisa “menghapus” sesuatu hanya dengan berhenti membicarakannya.
Ketika seseorang mengalami masalah, pikirannya biasanya berusaha mencari penjelasan: Apa yang terjadi? Mengapa ini terjadi? Apakah saya salah? Apa yang seharusnya saya lakukan? Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Jika tidak ada kesempatan untuk memproses pertanyaan-pertanyaan tersebut, pikiran dapat terus kembali pada masalah yang sama.
This is what may arise in the form of rumination, which is a repetitive thinking pattern about negative experiences, their causes, consequences, or the accompanying feelings.
Ironisnya, seseorang mungkin tampak tenang dari luar, tetapi sebenarnya pikirannya sangat ramai.
Ia tidak membicarakan masalahnya kepada siapa pun, tetapi terus memikirkannya ketika sendirian. Ia mengingat percakapan yang sudah berlalu, membayangkan skenario yang berbeda, mempertanyakan keputusan sendiri, atau membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi.
Thus, “silence” does not always mean “calm”.
Seseorang dapat berhenti berbicara tentang masalah, tetapi tetap mengalami masalah tersebut secara mental berulang kali.
Jika berlangsung terus-menerus, pola seperti ini dapat menguras energi psikologis. Perhatian menjadi tersedot pada persoalan yang sama, sementara kemampuan untuk menikmati aktivitas lain dapat berkurang.
Oleh karena itu, menyelesaikan masalah secara psikologis bukan sekadar tentang “berbicara sebanyak mungkin”, melainkan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, mengidentifikasi emosi, dan menentukan respons yang lebih adaptif.
2. Emosi yang Terus Ditekan Dapat Membuat Seseorang Kehilangan Kemampuan Mengenali Perasaannya
When someone faces a painful experience, the resulting response can be highly varied.
Someone is crying.
Someone is angry.
Someone wants to share a story.
However, there are also those who immediately say, “I’m fine,” even though they are actually hurt.
Jika hal ini dilakukan sekali-sekali, tentu tidak otomatis menjadi masalah. Tidak semua emosi harus langsung diekspresikan begitu muncul.
Masalah dapat muncul ketika seseorang menjadikan penekanan emosi sebagai strategi utama dalam menghadapi hampir semua persoalan.
Instead of admitting he was disappointed, he said he didn’t care.
Instead of admitting he was afraid, he said everything was fine.
Instead of acknowledging that he was hurt, he convinced himself that the experience was unimportant.
Dalam jangka panjang, seseorang dapat menjadi semakin sulit memahami apa yang sebenarnya dirasakannya.
Ini penting karena mengenali emosi merupakan bagian dari kemampuan regulasi emosi. Seseorang perlu mengetahui apakah dirinya sedih, marah, kecewa, takut, malu, bersalah, atau merasa tidak berdaya sebelum dapat menentukan cara yang tepat untuk menghadapinya.
Ketika emosi terus ditekan tanpa diproses, tekanan psikologis tersebut tidak selalu menghilang. Pada sebagian orang, tekanan justru dapat muncul melalui perubahan perilaku, mudah tersinggung, kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur, menarik diri dari orang lain, atau keluhan fisik yang berkaitan dengan stres.
Oleh karena itu, tujuan psikologis bukanlah memaksa seseorang untuk selalu mengekspresikan semua emosinya.
Tujuannya adalah mampu mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara sehat.
Diam bisa menjadi bagian dari proses tersebut. Namun diam sebaiknya menjadi jeda untuk memahami perasaan, bukan cara untuk berpura-pura bahwa perasaan itu tidak ada.
3. Avoidance Can Strengthen Feelings of Fear and Anxiety
In psychology, avoidance is one of the most important mechanisms to understand.
Bayangkan seseorang mengalami konflik dengan orang lain. Ia merasa cemas setiap kali harus membicarakan persoalan tersebut. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak membicarakannya.
A moment after dodging, he might feel relieved.
Untung saya tidak membahasnya.
The issue is that this sense of relief can teach the brain to associate avoiding conversation as a way to eliminate anxiety.
Pada kesempatan berikutnya, ketika masalah serupa muncul, seseorang mungkin kembali menghindar.
Then dodging again.
Siklus tersebut dapat menjadi pola.
Secara sederhana:
masalah muncul → kecemasan meningkat → masalah dihindari → kecemasan sementara menurun → otak belajar bahwa menghindar terasa aman → masalah berikutnya semakin sulit dihadapi.
This is one reason why avoidance can maintain anxiety.
The longer a person avoids facing something that truly needs to be faced, the more likely it will feel frightening.
Dalam psikologi klinis, prinsip semacam ini sangat relevan dalam memahami berbagai masalah kecemasan. Penghindaran memang dapat memberikan rasa aman dalam jangka pendek, tetapi belum tentu membantu dalam jangka panjang.
For example, it’s not just interpersonal conflicts.
Someone who fears failure may keep postponing tasks.
Seseorang yang takut ditolak mungkin menghindari hubungan sosial.
Seseorang yang takut membicarakan pengalaman traumatis mungkin menghindari semua hal yang mengingatkannya pada pengalaman tersebut.
The wider the evasion, the greater the likelihood that his living space will shrink as well.
Karena itu, menghadapi masalah secara bertahap dan aman sering kali lebih konstruktif daripada terus-menerus melarikan diri darinya.
4. Konflik yang Tidak Diselesaikan Dapat Merusak Hubungan dengan Orang Lain
Masalah psikologis tidak hanya terjadi “di dalam kepala”. Banyak permasalahan yang tidak terselesaikan akhirnya memengaruhi hubungan interpersonal.
Misalnya, seseorang merasa kecewa terhadap pasangannya tetapi memilih untuk diam.
Her partner does not know what is actually happening.
The next day, he still held onto his disappointment.
Then another minor issue arose.
Previous disappointment also carried along.
Finally, the reaction to a small issue became much bigger than it should have been.
Situation seperti ini dapat menciptakan pola komunikasi yang tidak sehat.
Ketika masalah tidak dibicarakan, orang lain harus menebak-nebak apa yang sedang terjadi. Mereka mungkin merasa ditolak, bingung, bersalah, atau tidak aman.
Dalam hubungan jangka panjang, akumulasi masalah yang tidak pernah dibicarakan dapat menghasilkan jarak emosional.
Seseorang mungkin secara fisik masih berada dalam hubungan tersebut, tetapi secara emosional semakin menjauh.
Hal yang sama dapat terjadi dalam keluarga, pertemanan, maupun lingkungan kerja.
Diam juga dapat berubah menjadi bentuk komunikasi tidak langsung. Misalnya, seseorang tidak mengatakan bahwa dirinya marah, tetapi menunjukkan kemarahan melalui sikap dingin, menarik diri, sindiran, atau perubahan perilaku.
Jika pola seperti ini terus berlangsung, masalah awal mungkin sudah tidak lagi menjadi satu-satunya persoalan. Hubungan itu sendiri mulai mengalami masalah.
Namun, penting untuk membedakan antara diam untuk menenangkan diri dan pengabaian yang digunakan untuk menghukum atau mengendalikan orang lain.
Sentences like, “I’m currently too emotional. I need some time to calm down; let’s talk again later,” represent a form of communication that is vastly different from deliberately ignoring someone without explanation in order to make that person feel afraid or guilty.
Diam yang sehat biasanya memiliki tujuan: memberi ruang bagi pengaturan diri.
Kebisuan yang tidak sehat dapat menjadi bentuk penghindaran atau alat untuk mempertahankan konflik.
5. Long-term psychological stress can affect physical condition
One misconception about mental health is thinking that psychological issues only occur in the mind.
Yet, the body and mind are interconnected.
Ketika seseorang menghadapi tekanan berkepanjangan, tubuh dapat merespons melalui sistem stres. Dalam kondisi tertentu, stres kronis dapat berkaitan dengan berbagai perubahan pada tidur, energi, konsentrasi, nafsu makan, ketegangan otot, serta persepsi terhadap keluhan fisik.
Karena itu, seseorang yang terus menyimpan masalah mungkin berkata:
I actually wasn’t thinking about anything.
However, his body language clearly indicated that he was under pressure.
She has difficulty sleeping.
Body feels tense.
Easy to get tired.
Difficult to concentrate.
Easily offended.
Orang tersebut mengalami berbagai keluhan fisik yang muncul terutama ketika tekanan psikologis meningkat.
This does not mean that every headache, sleep disturbance, or bodily complaint is necessarily caused by emotional issues.
Penyebab medis tetap perlu dipertimbangkan dan, jika diperlukan, diperiksa oleh tenaga kesehatan.
Namun, hubungan antara stres dan kondisi fisik menunjukkan bahwa mengabaikan masalah psikologis tidak berarti tubuh tidak terpengaruh.
Therefore, mental health and physical health should not be treated as two entirely separate things.
Taking care of psychological health is also part of taking care of overall health.
6. Unresolved issues can change the way a person sees themselves
Alasan terakhir mungkin merupakan salah satu yang paling mendalam.
Jika pengalaman negatif tidak pernah diproses, seseorang dapat mulai membuat kesimpulan tentang dirinya sendiri berdasarkan pengalaman tersebut.
Misalnya, seseorang mengalami kegagalan.
Jika ia mampu memprosesnya secara sehat, ia mungkin berpikir:
I have failed in this, but failure does not define my entire ability.
Namun jika pengalaman tersebut terus disimpan dan dipenuhi kritik terhadap diri sendiri, kesimpulannya dapat berubah menjadi:
I memang tidak mampu.
Likewise with the experience of being rejected.
Seseorang menolak saya” dapat berubah menjadi “Tidak ada yang akan menerima saya.
Or the experience of conflict:
I made a mistake” can be changed to “I’m always the problem.
Di sinilah masalah yang awalnya merupakan sebuah peristiwa dapat berubah menjadi bagian dari identitas diri.
Pola pikir semacam ini dapat memengaruhi rasa percaya diri, hubungan sosial, pengambilan keputusan, serta cara seseorang menghadapi tantangan selanjutnya.
Seseorang yang percaya dirinya tidak mampu mungkin menjadi semakin takut mencoba.
Seseorang yang yakin dirinya tidak layak dicintai mungkin menerima hubungan yang tidak sehat.
Seseorang yang percaya bahwa dirinya selalu gagal bahkan mungkin berhenti berusaha sebelum mencoba.
Dengan kata lain, masalah yang tidak diselesaikan dapat memengaruhi bukan hanya bagaimana seseorang mengingat masa lalu, tetapi juga bagaimana ia menjalani masa depan.
Jadi, apakah kita harus selalu membicarakan masalah?
No.
Ini merupakan bagian penting yang sering terlewatkan ketika kita membahas kesehatan mental.
Tidak semua masalah harus langsung diceritakan kepada orang lain. Tidak semua emosi harus langsung diungkapkan. Dan tidak semua konflik harus diselesaikan ketika seseorang masih berada dalam kondisi emosional yang sangat tinggi.
Sometimes, taking a break is actually a healthy choice.
Yang perlu diperhatikan adalah apa yang terjadi setelah jeda tersebut.
Are we facing problems again?
Are we trying to understand our own feelings?
Are we looking for a solution?
Apakah kita membicarakannya ketika sudah lebih tenang?
Atau kita terus menundanya sampai masalah tersebut menjadi semakin besar?
Perbedaan inilah yang penting.
Diam untuk menenangkan diri berbeda dengan diam untuk menghindari masalah.
Menunda pembicaraan berbeda dengan tidak pernah membicarakannya.
Menjaga privasi berbeda dengan menyimpan semua masalah sendirian.
Dengan memahami perbedaan tersebut, kita tidak perlu menganggap bahwa setiap bentuk keheningan adalah sesuatu yang buruk.
Kapan Masalah yang Dibiarkan Mulai Perlu Mendapat Perhatian?
There is no universal time limit that determines when someone has been silent “too long.”
Namun, beberapa tanda dapat menjadi sinyal bahwa masalah tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Contohnya:
thoughts about the problem keep arising and are hard to stop;
sleep is disturbed;
daily tasks or activities begin to be neglected;
relationships with others are getting worse;
someone is increasingly withdrawing;
emosi menjadi jauh lebih mudah meledak;
muncul rasa takut atau cemas yang semakin kuat;
seseorang mulai menggunakan alkohol atau perilaku lain untuk menghindari perasaan;
The same problem keeps recurring without resolution;
or feelings of hopelessness and being unable to cope with daily life.
Jika tekanan psikologis sudah mengganggu fungsi sehari-hari atau berlangsung terus-menerus, berbicara dengan psikolog, psikiater, dokter, atau tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.
Seeking help does not mean a person is weak.
Justru, meminta bantuan dapat menjadi bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Penutup: Diam boleh, tetapi jangan sampai menjadi tempat bersembunyi
Diam memiliki tempat dalam kesehatan psikologis.
Kita membutuhkan keheningan untuk berpikir.
We need a break to calm our emotions.
Kita membutuhkan ruang pribadi untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri.
Namun, diam menjadi bermasalah ketika digunakan untuk terus menghindari sesuatu yang sebenarnya membutuhkan perhatian.
Masalah yang tidak dibicarakan belum tentu hilang. Emosi yang ditekan belum tentu selesai. Konflik yang dihindari belum tentu berhenti memengaruhi hubungan. Dan pengalaman yang tidak diproses dapat terus memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Oleh karena itu, pertanyaannya bukan sekadar:
Haruskah saya membahas masalah ini?
The more important question is:
Am I taking a break to process the issue, or am I actually running away from it?
Jika diam memberi kita ruang untuk berpikir dan kemudian kembali menghadapi masalah dengan lebih sehat, diam dapat menjadi bagian dari regulasi emosi.
Namun jika diam membuat masalah semakin besar, kecemasan semakin kuat, hubungan semakin renggang, dan kehidupan sehari-hari semakin terganggu, mungkin sudah waktunya untuk berhenti hanya “menunggu masalah berlalu”.
Sometimes, the first step to solving a problem is not finding the answer.
Langkah pertama adalah mengakui bahwa masalah itu memang ada.***
