Site icon Klub Sehat Jakarta

Daftar Penyebab Gula Darah Naik pada Orang Tanpa Diabetes

AA1PkLEH

Kadar gula darah tinggi sering langsung dikaitkan dengan diabetes. Padahal, tubuh terus mengalami perubahan kadar gula darah, naik maupun turun, tergantung pada apa yang kamu makan, aktivitas yang kita lakukan, hingga proses alami yang terjadi di dalam tubuh.

Itu sebabnya, seseorang tanpa diabetes pun bisa mengalami lonjakan gula darah. Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Seberapa tinggi kadar gula darah dianggap berbahaya? Dan seperti apa rasanya ketika gula darah berada di atas normal?

Artikel ini akan mengulas hal-hal tersebut, agar kamu lebih memahami tubuh sendiri dan tahu kapan harus waspada.

Penyebab umum kenaikan gula darah pada orang tanpa diabetes

Ada tiga faktor utama yang memengaruhi kadar gula darah, baik pada orang dengan maupun tanpa diabetes:

Riwayat keluarga dengan diabetes dapat meningkatkan risiko kamu mengalami gula darah tinggi. Meski pola makan sehat dan gaya hidup aktif bisa membantu mencegah diabetes, tetapi sensitivitas insulin yang menurun dapat diturunkan dalam keluarga, sehingga membuat seseorang lebih rentan.

Asupan gula berlebih dan karbohidrat olahan akan dipecah menjadi glukosa, sehingga gula darah naik dan tubuh melepaskan insulin untuk menyimpannya sebagai energi. Jika terlalu sering mengonsumsi makanan manis dan karbohidrat olahan, tubuh bisa menghasilkan insulin berlebihan dan akhirnya mengalami resistensi insulin. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup sedentari (minim gerak) meningkatkan risiko resistensi insulin. Otot yang jarang digunakan tidak efektif dalam menyerap dan menyimpan glukosa. Akibatnya, gula darah cenderung meningkat seiring waktu. Sebaliknya, olahraga teratur membantu menurunkan gula darah karena otot membutuhkan lebih banyak glukosa untuk energi.

Fluktuasi normal gula darah

Kadar gula darah sebenarnya naik turun sepanjang hari, terutama setelah makan. Pada orang tanpa diabetes, konsumsi makanan atau minuman tinggi gula atau karbohidrat bisa membuat gula darah naik hingga sekitar 140 mg/dL dalam dua jam setelah makan. Sebagai perbandingan, kadar gula darah puasa yang dianggap normal adalah 99 mg/dL atau lebih rendah.

Hal-hal yang bisa memengaruhi kadar gula darah

Berikut ini berbagai hal yang bisa memengaruhi kadar gula darah:

Ada juga pemicu yang bisa membuat gula darah justru turun. Misalnya, cuaca panas ekstrem dapat membuat pembuluh darah melebar sehingga insulin diserap lebih cepat, berisiko menurunkan gula darah.

Jika mencoba aktivitas atau makanan baru, sebaiknya periksa kadar gula darah sebelum dan sesudahnya untuk mengetahui bagaimana tubuh bereaksi.

Kondisi medis yang dapat menyebabkan gula darah tinggi

Ada juga beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan gula darah tinggi. Ini contohnya:

Pada sindrom Cushing, tubuh menghasilkan terlalu banyak hormon kortisol dari kelenjar adrenal. Kortisol yang berlebihan dapat mengganggu kerja insulin dan memicu resistansi insulin. Sekitar 10–30 persen pasien sindrom Cushing mengalami gangguan toleransi glukosa, dan 40–45 persen dapat berkembang menjadi diabetes.

Gangguan pada pankreas, seperti pankreatitis, kanker pankreas, atau fibrosis kistik, dapat merusak sel-sel pankreas yang berfungsi memproduksi insulin. Jika sel-sel ini rusak, pankreas tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup untuk mengatur gula darah.

Pasien PCOS sering mengalami ketidakseimbangan hormon, termasuk peningkatan kadar testosteron dan insulin. Banyak di antaranya mengalami resistansi insulin, sehingga glukosa berlebih tetap berada di aliran darah dan menyebabkan hiperglikemia.

Cedera atau luka bakar dapat menimbulkan stres fisik yang mengubah metabolisme glukosa. Respons “fight-or-flight” melepaskan kortisol dan epinefrin, yang meningkatkan produksi glukosa sekaligus menghambat kerja insulin. Stres fisik juga memicu pelepasan protein peradangan (sitokin) yang memperburuk resistensi insulin.

Setelah operasi, tubuh mengalami stres yang meningkatkan kadar sitokin dan hormon tertentu. Hal ini merangsang hati memproduksi lebih banyak glukosa dan menghambat kerja insulin. Hingga 30 persen pasien dapat mengalami hiperglikemia akibat stres pasca operasi, bahkan setelah keluar dari rumah sakit.

Infeksi seperti pneumonia atau infeksi saluran kemih dapat memicu hiperglikemia akibat stres. Saat infeksi, kadar kortisol meningkat dan menghambat insulin menurunkan gula darah. Respons ini sebenarnya normal, karena tubuh menyediakan energi ekstra bagi organ vital seperti otak dan ginjal untuk membantu melawan infeksi.

Beberapa obat dapat meningkatkan gula darah, misalnya vasopresor katekolamin (dopamin, norepinefrin), obat imunosupresan (tacrolimus, cyclosporine), dan kortikosteroid. Obat-obatan ini mengaktifkan enzim yang meningkatkan produksi glukosa sekaligus mengganggu kerja insulin.

Pasien rawat inap yang mendapat nutrisi melalui selang makan atau infus (IV) juga berisiko mengalami hiperglikemia, karena cairan nutrisi sering mengandung larutan gula.

Sel lemak berlebih (adiposit) mengganggu keseimbangan glukosa dan insulin. Sel-sel ini melepaskan protein peradangan seperti interleukin dan TNF (tumor necrosis factor) yang meningkatkan resistansi insulin. Akibatnya, tubuh lebih sulit memproduksi insulin saat gula darah naik, dan glukosa tidak mudah disimpan atau digunakan oleh otot.

Gejala gula darah tinggi

Sebagian besar orang mungkin tidak merasakan gejala apa pun, kecuali jika hiperglikemia (gula darah tinggi) berlangsung cukup parah dan terus-menerus. Namun, ada juga yang mengalami rasa cemas akibat detak jantung yang cepat, sulit berkonsentrasi, atau merasa bingung.

Tergantung tingkat keparahannya, gejala gula darah tinggi meski tanpa diabetes dapat meliputi:

Cara menurunkan kadar gula darah

Cara menurunkan gula darah tinggi bergantung pada penyebabnya. Jika hiperglikemia terjadi akibat penyakit atau penggunaan obat tertentu, maka menghentikan obat penyebab atau mengobati penyakit dasarnya dapat membantu menurunkan gula darah.

Namun, bila hiperglikemia dipicu oleh makanan, tidak ada satu pun jenis makanan atau minuman yang terbukti mampu langsung menurunkan gula darah seketika. Meski begitu, kestabilan gula darah dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu dengan cara.

Terapi nutrisi sangat dianjurkan bagi orang dengan pradiabetes dan diabetes, serta juga bermanfaat bagi orang tanpa diabetes untuk menjaga kestabilan gula darah.

Selain mengatur jenis makanan, terapi nutrisi juga menekankan pada:

Dengan pola makan yang seimbang, tubuh lebih mampu menjaga kadar gula darah tetap stabil sepanjang hari.

Kapan harus menemui dokter saat mengalami kadar gula darah tinggi?

Merasa gejala gula darah naik setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang sangat manis bukanlah hal yang aneh. Namun, lonjakan gula darah yang berlebihan seharusnya tidak terjadi setelah makan dengan menu seimbang.

Jika kamu merasakan gejala gula darah tinggi setiap kali selesai makan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Hal ini bisa menjadi tanda adanya risiko diabetes atau masalah lain terkait regulasi gula darah.

Pada orang yang sebenarnya sudah memiliki diabetes tetapi belum terdiagnosis, gula darah tinggi yang tidak terkendali dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti ketoasidosis diabetik atau hiperglikemia hiperosmolar.

Gejala gula darah yang sangat tinggi dapat meliputi:

Selain itu, masalah pada pankreas, kelenjar adrenal, atau produksi insulin juga dapat memengaruhi cara tubuh memproses glukosa.

Semakin cepat kamu menyampaikan gejala yang mengkhawatirkan kepada dokter, makin cepat pula kondisi dapat didiagnosis dengan tepat dan ditangani secara efektif.

Siapa pun bisa mengalami gula darah tinggi, terutama setelah makan atau minum yang sangat manis. Pada orang tanpa diabetes, kadar gula darah biasanya kembali normal dalam 1–2 jam setelah makan, sedangkan diabetes sering membutuhkan insulin atau obat lain untuk menjaga keseimbangan ini.

Gejala seperti haus berlebihan, sering buang air kecil, atau tiba-tiba merasa berenergi bisa menjadi tanda gula darah tinggi, bahkan pada orang tanpa diabetes. Jika kamu merasakan gejala ini dalam bentuk yang parah, atau selalu muncul setelah setiap kali makan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Perlu diingat, diabetes hanyalah salah satu dari berbagai kondisi yang dapat menyebabkan gula darah tinggi.

Berapa Kadar Gula Darah yang Berbahaya? Sering Melewatkan Waktu Makan? Ini Efeknya pada Gula Darah Studi Ini Temukan Versi Alami Ozempic untuk Mengendalikan Gula Darah

Exit mobile version