Site icon Klub Sehat Jakarta

Gejala DBD sering menipu, pengalaman ibu di Kubu Raya ini menjadi peringatan bagi orang tua

sedang 1571037026Gejala DBD Pada Anak Usia 1 dan 2 Tahun

Ringkasan Berita:

  • Seorang warga Kubu Raya, Sinta Irma, berbagi pengalaman merawat anaknya yang berusia tiga tahun saat tertular DBD.
  • Awalnya hanya diduga demam biasa, namun anaknya memasuki fase kritis pada hari keempat hingga kelima dan harus menjalani perawatan intensif selama lima hari di rumah sakit.
  • Pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat untuk segera memeriksa diri ketika muncul gejala DBD.

Klub Sehat Jakarta, KUBU RAYA– Warga Kabupaten Kubu Raya, Sinta Irma, berbagi pengalaman saat merawat anak keduanya yang terkena Demam Berdarah Dengue (DBD).

Menurutnya, masyarakat perlu memahami gejala awal hingga fase kritis penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Sinta menceritakan, anaknya yang berusia tiga tahun awalnya hanya mengalami demam tinggi disertai mual dan muntah.

“Gejala awal seperti orang demam pada umumnya, dengan demam tinggi, mual dan muntah,” katanya kepada Klub Sehat Jakarta, Jumat 26 Juni 2026.

Karena mengira hanya demam biasa, Sinta membawa anaknya berobat ke puskesmas.

Saat itu, anak tersebut hanya menjalani perawatan jalan tanpa pemeriksaan darah.

“Awalnya kami mengira hanya demam biasa. Jadi kami membawanya ke puskesmas, diberi obat lalu pulang,” katanya.

Setelah mengonsumsi obat penurun demam, kondisi anaknya sempat membaik.

Demam mulai menurun pada hari keempat.

Namun, memasuki hari kelima, meskipun suhu tubuh sudah kembali normal, kondisi anak justru terlihat semakin lemah.

“Karena demamnya sudah turun pada hari keempat dan kelima, kami pikir sudah membaik. Ternyata, kata dokter, itu justru fase krusial atau fase kritisnya,” kata Sinta.

Pada fase tersebut mulai muncul sejumlah gejala lain, seperti ruam atau bintik merah pada kulit yang terlihat jelas di telapak tangan, tubuh lemah, frekuensi buang air kecil berkurang, hingga perdarahan pada gusi dan bibir.

“Ruam mulai terlihat, tubuh lemah, buang air kecil sedikit. Yang paling mengkhawatirkan adalah gusi yang berdarah, bibirnya juga luka sariawan hingga berdarah,” katanya.

Melihat kondisi tersebut, Sinta segera membawa anaknya ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Hasil pemeriksaan menunjukkan anaknya positif DBD dan harus menjalani perawatan intensif.

“Anak mengeluh sakit kepala, mata dan lututnya nyeri, sementara demamnya naik turun,” katanya.

Sinta mengaku semakin cemas setelah mengetahui jumlah trombosit anaknya turun menjadi sekitar 128.000 per mikroliter, di bawah kisaran normal 150.000 hingga 450.000 per mikroliter.

Selama menjalani perawatan, ia juga diberikan asupan tambahan berupa jus jambu biji merah dan madu angkak sebagai pelengkap, selain pengobatan yang diberikan oleh tim medis.

Setelah lima hari menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi anaknya mulai membaik dan diperbolehkan pulang.

“Terima kasih Tuhan, anak kami sudah bisa pulang setelah lima hari dirawat di rumah sakit. Tapi kami masih harus kembali lagi untuk kontrol sesuai jadwal,” katanya.

Melalui pengalamannya, Sinta mengimbau masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang mengarah pada DBD, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko komplikasi dapat diminimalkan.

Tips Mencegah Tertular DBD

Berikut beberapa langkah efektif untuk mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD):

  1. Melakukan 3M Plus secara teratur

Menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, dan tangki minimal seminggu sekali.

Menutup rapat semua wadah penyimpanan air.

Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menyimpan air hujan.

Selain itu, seperti menyebarkan larvasida jika diperlukan, memelihara ikan pemakan jentik, dan membersihkan saluran air.

2. Menghindari gigitan nyamuk

Menggunakan losion atau semprotan anti nyamuk.

Mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang, terutama di pagi dan sore hari saat nyamuk aktif.

Menggunakan kawat kasa pada ventilasi dan menggunakan kelambu saat tidur jika diperlukan.

3. Menjaga kebersihan lingkungan

Jangan biarkan genangan air di sekitar rumah.

Membersihkan saluran air, pot bunga, tempat minum hewan, dan wadah lain yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

4. Melakukan pemeriksaan jentik secara berkala

Periksa seluruh wadah yang dapat menampung air setidaknya seminggu sekali untuk memastikan tidak ada jentik nyamuk.

5. Mengikuti kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)

Ikut serta dalam kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan bersama warga.

Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala

Demam tiba-tiba, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, atau munculnya bintik merah di kulit perlu segera diperiksa agar mendapatkan penanganan dini.

Pencegahan DBD paling efektif dilakukan dengan membersihkan tempat penampungan air yang tergenang, karena nyamuk penyebab DBD berkembang biak di air bersih yang tergenang. Upaya pencegahan yang dilakukan secara rutin oleh seluruh anggota keluarga dan masyarakat dapat menekan risiko penularan penyakit ini.(*)

Ikuti Instagram Tribun PontianakIG TRIBUN

Dapatkan Berita Viral Melalui SaluranWhatsApp

Baca Berita Terbaru diBERITA GOOGLE

Exit mobile version