
Jakarta Sehat Club– Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di tujuh wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.520 kasus tercatat sebagai kasus harian.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI Then Suyanti mengatakan, jumlah kasus ISPA pada kelompok usia di atas lima tahun mencapai 258.298 kasus dan pada kelompok balita mencapai 75.172 kasus.
“Secara kumulatif ada 333.470 kasus ISPA, dengan jumlah kasus harian yang masih menderita ISPA sebanyak 4.520,” kata Then kepada wartawan, Jumat (23/10).
Kemudian menjelaskan, perkembangan kasus ISPA di tujuh wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan menunjukkan tren yang berbeda jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
West Kalimantan began recording a decline, while South and Central Kalimantan still experienced an increase despite a downward trend.
Sementara itu, kasus ISPA di Kalimantan Timur relatif stabil dibandingkan tahun lalu. Adapun Sumatera Selatan dan Riau mencatat jumlah kasus yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan tren di Jambi dikatakan relatif stabil seperti tahun lalu.
Untuk menekan dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kemenkes menerapkan sejumlah langkah promotif dan preventif. Upaya tersebut mencakup pembagian masker, edukasi kepada masyarakat mengenai pengurangan risiko kesehatan, serta surveilans kualitas udara dalam ruang dan dampaknya terhadap kesehatan permukiman.
Kemenkes juga memantau penyakit yang berpotensi muncul akibat paparan asap karhutla, mulai dari ISPA, pneumonia, asma, hingga iritasi mata dan kulit. Selain itu, pemerintah memastikan ketersediaan obat-obatan, bahan medis habis pakai (BMHP), serta alat kesehatan yang dibutuhkan daerah terdampak.
Kemudian menyatakan, koordinasi lintas sektor juga terus dilakukan. Kemenkes telah menerbitkan surat edaran kepada pemerintah daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak karhutla.
Kemenkes juga telah mengirim surat kepada Kementerian Agama serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah agar pembelajaran jarak jauh (PJJ) dapat diterapkan jika kondisi kualitas udara di wilayah terdampak memburuk.
Siagakan 1.691 Puskesmas dan 491 Rumah Oksigen
Dalam menyiapkan layanan kesehatan, Kemenkes mengerahkan 1.691 puskesmas di wilayah terdampak karhutla. Pemerintah juga menyiapkan mobilitas bantuan logistik, rumah sakit rujukan, laboratorium kesehatan masyarakat (Labkesmas), serta layanan Public Safety Center (PSC) 119.
Selain itu, pemerintah daerah telah menyediakan 491 rumah oksigen di wilayah terdampak. Kemenkes juga memantau kesiapan sumber daya manusia kesehatan agar penanganan masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat asap dapat dilakukan dengan cepat.
Masyarakat Diminta Memantau Kualitas Udara
Kemudian mengimbau masyarakat untuk rutin memantau kualitas udara melalui aplikasi SatuSehat maupun ISPU Net milik Kementerian Lingkungan Hidup. Ketika kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat atau berbahaya, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan.
“If the conditions are very unhealthy and dangerous, reduce outdoor activities. Then, don’t forget to wear a mask if you must go out and maintain hydration. So, you should consume sufficient drinking water,” said Then.
Masyarakat juga diminta untuk melindungi kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit bawaan. Upaya mengurangi masuknya asap ke dalam rumah juga perlu dilakukan untuk meminimalkan paparan polusi udara.
Kemudian menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan akibat asap kebakaran hutan dan lahan. Jika keluhan kesehatan meningkat, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan.
