Site icon Klub Sehat Jakarta

Tidak hanya menyebabkan ISPA, ini dampak jangka panjang asap kebakaran hutan dan lahan bagi saluran pernapasan

Jakarta Sehat ClubAsap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu aktivitas harian masyarakat, tetapi juga membawa ancaman dampak jangka panjang bagi kesehatan tubuh.

Tumpukan asap kebakaran hutan dan lahan diketahui mengandung berbagai campuran zat berbahaya, mulai dari gas beracun hingga partikel halus yang dapat masuk dan merusak saluran pernapasan manusia.

Spesialis Paru dan Pernapasan Konsultan, Agus Dwi Susanto, menjelaskan bahwa salah satu dampak kesehatan paling dominan yang kerap meningkat akibat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Selain ancaman ISPA, masyarakat yang telah memiliki riwayat penyakit pernapasan kronis seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) berisiko mengalami pemburukan kondisi fisik saat terpapar asap.

She explained that the habit of continuously inhaling smoke from forest and land fires can lead to reduced lung function and trigger airway hyperreactivity.

Keadaan hiperreaktivitas tersebut membuat organ pernapasan menjadi jauh lebih sensitif dan mudah mengalami iritasi atau penyempitan sewaktu-waktu saat terpapar rangsangan pemicu seperti debu dan udara tercemar.

“Keadaan tersebut dapat membuat saluran napas lebih mudah mengalami penyempitan atau iritasi ketika terpapar pemicu tertentu,” kata Agus saat memberikan keterangan di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Secara medis, kandungan asap kebakaran hutan dan lahan terdiri dari kombinasi gas dan partikel pencemar atau partikulat matter (PM) dengan berbagai ukuran.

Sejumlah gas berbahaya yang teridentifikasi di antaranya karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), ozon (O3), serta sulfur dioksida (SO2).

Sementara untuk partikel pencemar, partikel berukuran di atas 10 mikrometer umumnya hanya mengiritasi area luar seperti mata, hidung, dan tenggorokan.

Namun, partikel berukuran di bawah 10 mikrometer berpotensi terhirup hingga menembus jauh ke dalam jaringan paru-paru.

Tak hanya itu, asap kebakaran hutan dan lahan juga mengandung senyawa kimia beracun lainnya meski dalam jumlah lebih sedikit, seperti aldehid, benzena, toluena, logam, dioxin, hingga hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH).

Menanggapi kekhawatiran publik mengenai potensi timbulnya kanker akibat kandungan senyawa PAH yang bersifat karsinogenik, Agus memberikan penjelasan mendalam.

Ia menegaskan bahwa keberadaan bahan karsinogenik dalam asap tidak secara otomatis membuktikan bahwa paparan langsung akibat kebakaran hutan dan lahan menyebabkan penyakit kanker.

“Hingga saat ini belum ada bukti dan laporan yang menunjukkan terjadinya kanker akibat paparan asap kebakaran hutan,” jelas Agus.

Meskipun belum terbukti secara langsung memicu kanker, masyarakat diimbau tetap waspada dan mengurangi paparan asap.

Karena kandungan gas karbon monoksida (CO) yang tak berwarna dan tak berbau dalam asap tetap membawa risiko dampak jangka panjang yang fatal bagi tubuh.

Paparan karbon monoksida dosis rendah dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan pusing dan mual yang berkepanjangan, munculnya depresi, gangguan neurologis, hingga memperburuk kondisi penderita penyakit jantung koroner.

This article was published on Tribunnews.com with the title: Continuously Exposed to Haze from Forest Fires, Here Are the Long-Term Effects on the Lungs

Exit mobile version