Site icon Klub Sehat Jakarta

Waspadalah terhadap kasus leptospirosis di Gunungkidul yang meningkat, 3 warga meninggal dunia pada awal tahun 2026

1736389965279 81 Jumlah Kasus Leptospirosis 2014 2023 1

Ringkasan Berita:

  • Pada awal 2026, kasus leptospirosis di Gunungkidul meningkat tajam dengan 13 warga terinfeksi dan 3 orang meninggal dunia, sebagian besar berasal dari wilayah Playen.
  • Penyakit ini dipicu oleh bakteri dari air kencing tikus di genangan sawah. Petani menjadi kelompok yang paling rentan terkena karena kontak langsung dengan air atau tanah yang tercemar.
  • Warga diminta menggunakan sepatu bot saat pergi ke sawah, menutup luka, serta segera melapor ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi dan nyeri otot betis.

 

Klub Sehat Jakarta, GUNUNGKIDUL– Tiga warga Gunungkidul meninggal dunia akibat leptospirosis pada awal tahun 2026 ini.

Dari tiga korban yang meninggal, dua di antaranya berasal dari Playen.

Sementara secara keseluruhan, jumlah warga yang terinfeksi leptospirosis sebanyak 13 orang.

Jumlah kasus leptospirosis di Gunungkidul saat ini meningkat dibandingkan tahun 2025 lalu, di mana hanya ada 1 warga yang meninggal dunia.

Dikutip dari Kompas.com, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono mengatakan kasus leptospirosis paling banyak berasal dari wilayah Playen.

Dari total 13 kasus, sebanyak 5 kasus berasal dari wilayah Playen, di mana dua orang meninggal dunia.

“13 yang terinfeksi, 3 meninggal dunia. Untuk penyebarannya ada di beberapa kapanewon. Tapi, saat ini paling banyak di Kapanewon Playen karena ditemukan lima kasus dengan dua warga meninggal dunia,” kata Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono saat dihubungi wartawan melalui telepon Minggu (8/3/2026).

Ismono meminta para petani untuk meningkatkan kewaspadaan saat melakukan kegiatan di ladang atau sawah.

Warga diharapkan menggunakan sepatu untuk melindungi kaki agar meminimalkan risiko terkena penyakit leptospirosis.

Karena, penyakit ini menyebar melalui air kencing tikus yang mengandung bakteri Leptospira.

“Hujan membuat genangan di sawah, sedangkan tikus juga berkembang biak di area ini,” kata Ismono.

“Setelah beraktivitas segera dicuci dengan sabun agar terhindar dari penyebaran penyakit,” katanya.

Leptospirosis menyebar melalui luka di tubuh, dan gejala demam, bisa muncul nyeri pada tubuh, mual muntah dan sebagainya, tergantung pada daya tahan tubuh.

Ismono mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika ada gejala.

Apa itu Leptospirosis?

Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Leptospira.

Penyakit ini termasuk dalam kategori zoonosis, yang berarti penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

Meskipun sering disebut sebagai “penyakit kencing tikus”, bakteri ini sebenarnya dapat dibawa oleh berbagai jenis hewan, termasuk sapi, babi, anjing, dan kuda.

1. Bagaimana Penyebarannya?

Bakteri Leptospira hidup di ginjal hewan yang terinfeksi dan dikeluarkan melalui air seni mereka. Manusia dapat tertular melalui:

2. Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala leptospirosis sering kali mirip dengan penyakit lain seperti flu atau demam berdarah, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosis.

Gejalanya meliputi:

3. Komplikasi (Penyakit Weil)

Jika tidak segera diobati, leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi yang mematikan yang disebut Penyakit Weil, yang menyebabkan:

4. Langkah Pencegahan

Mengingat bakteri ini sangat tahan lama di lingkungan yang lembap, berikut adalah langkah-langkah proteksinya:

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com.

Exit mobile version