Site icon Klub Sehat Jakarta

Jangan Salah, Ini Posisi Tidur Paling Baik dan Buruk menurut Sains

AA1HrDZO

AA1Hrzzt

Bagaimana posisi tidur yang paling kamu sukai? Apakah meringkuk seperti janin dalam perut, berbaring telentang kayak batang kayu, atau tidur tengkurap mirip orang jatuh dari ketinggian?

Banyak orang menganggap posisi tidur hanyalah kebiasaan kecil, padahal para ilmuwan percaya, cara tidur bisa memengaruhi kesehatan lebih dari sekadar rasa nyaman.

Sebelum kita bahas lebih jauh, ada beberapa hal penting yang perlu dicatat. Pertama, kebanyakan orang tidak tidur dengan satu posisi saja selama tidur. Kedua, bagi anak muda atau orang dewasa produktif, posisi tidur tidak terlalu berpengaruh besar. Namun, seiring bertambahnya usia, cara tidur bisa juga lho berdampak pada kesehatan.

Pada dasarnya, tidak ada satu posisi tidur yang paling sempurna, karena setiap orang punya kondisi fisik dan lingkungan tidur berbeda. Meski begitu, beberapa posisi dinilai lebih baik daripada yang lain. Berikut posisi tidur menurut sains:

Tidur Telentang: Nyaman tapi Berisiko

Tidur telentang, misalnya, meski terasa nyaman, posisi ini ternyata paling berisiko. Tidur dengan posisi telentang bisa bikin seseorang lebih mudah mendengkur. Ini karena gravitasi menarik lidah dan jaringan lunak ke arah tenggorokan, sehingga sebagian saluran napas bisa tersumbat.

Tidur telentang juga bisa meningkatkan risiko sleep apnea, yakni gangguan tidur serius yang menurunkan kualitas tidur dan bisa memicu masalah kesehatan jangka panjang.

Kendati begitu, tidur telentang tidak melulu buruk. Posisi ini bisa membantu tulang belakang tetap lurus asalkan kasur dan bantal yang digunakan mendukung tubuh dengan baik. Bagi orang yang sering mengalami maag atau asam lambung naik, tidur telentang dengan kepala sedikit lebih tinggi juga dapat membantu meredakan gejala. Plus, kabar baiknya, posisi ini tidak berkontribusi pada munculnya keriput di wajah!

Untuk bayi, tidur telentang justru paling dianjurkan. Bayi memiliki kepala lebih besar dan saluran napas lebih kecil dibanding orang dewasa. Karena itu, tidur telentang aman untuk mencegah risiko tercekik atau sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).

Tidur Miring: Favorit Banyak Orang dan Paling Aman

Mayoritas orang ternyata lebih nyaman tidur miring. Kabar baiknya, posisi ini umumnya lebih sehat. Dilansir New York Post, tidur miring dapat membantu mengurangi dengkuran dan menurunkan risiko sleep apnea, sehingga kualitas tidur pun meningkat.

Tidur miring ke kiri bahkan punya manfaat lebih besar. Posisi ini memanfaatkan gravitasi untuk membantu sistem pencernaan bekerja lebih lancar. Limbah makanan akan lebih mudah bergerak dari kolon asendens, melintasi kolon transversum, lalu turun ke kolon desendens tempat terakhir sebelum buang air besar.

Beberapa penelitian pada hewan juga menunjukkan bahwa tidur miring membantu otak membuang sisa-sisa metabolisme, yang berpotensi menurunkan risiko penyakit Alzheimer atau Parkinson.

Meski begitu, tidur miring juga punya kelemahan. Tekanan pada satu sisi tubuh dapat menyebabkan nyeri bahu atau punggung, bahkan rahang terasa kaku.

Tidur Tengkurap: Jarang, Tapi Ada Untung Ruginya

Posisi tidur tengkurap adalah yang paling jarang dipilih orang. Meski tidak seburuk tidur telentang, posisi ini tetap punya masalah tersendiri.

Sama seperti tidur miring, posisi tengkurap bisa membantu mengurangi dengkuran dan sleep apnea. Namun, gravitasi tetap jadi musuh. Tidur dengan perut menempel pada kasur membuat berat badan bertumpu pada bagian perut, menekan tulang belakang, dan bisa memicu nyeri punggung serta leher.

Lalu, Mana yang Paling Baik?

Pada akhirnya, tidak ada jawaban mutlak. Posisi tidur terbaik adalah yang paling sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhanmu. Jika merasa posisi tidur sekarang kurang nyaman atau ingin mengubahnya, kamu bisa melatih tubuh untuk terbiasa tidur dengan cara berbeda. Banyak panduan di internet yang bisa membantumu mencobanya.

Yang terpenting, tidur nyenyak tetap jadi tujuan utama. Jadi, carilah posisi yang paling nyaman untuk mendukung tidur berkualitas dan kesehatan jangka panjang.

Exit mobile version