General
Ibu Hamil di Papua Tewas Usai Ditolak Rumah Sakit, Kemenkes Siapkan Sanksi Tegas
Klub Sehat Jakarta – Peristiwa tragis yang dialami oleh Irene Sokoy di Papua membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) buka suara. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyampaikan bahwa pihaknya sangat menyayangkan peristiwa itu dan berjanji mengambil langkah tegas.
”Kementerian Kesehatan turut berbelasungkawa dan menyayangkan insiden yang terjadi,” kata dia saat dikonfirmasi pada Senin (24/11).
Untuk mendalami peristiwa itu, Kemenkes memutuskan mengirimkan tim dari Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan ke Papua. Tim tersebut diperintahkan melakukan investigasi atas peristiwa itu. Investigasi dilaksanakan bersama dinas kesehatan setempat. Jika ditemukan pelanggaran, sanksi tegas dijatuhkan.
”Apabila ditemukan indikasi pelanggaran, pastinya akan ada sanksi tegas yang dikenakan untuk rumah sakit yang diduga menolak pasien,” imbuhnya.
Aji juga menyinggung penekanan yang berulang disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam berbagai kesempatan, Dia menyebut, menkes selalu mengingatkan agar seluruh rumah sakit di Indonesia tidak boleh menolak pasien.
”Rumah sakit harus bertindak profesional dengan mengutamakan keselamatan pasien dibanding masalah administrasi. Penolakan pasien oleh rumah sakit merupakan pelanggaran UU Kesehatan yang dapat mengarah ke unsur pidana,” tegasnya.
Dikutip dari Cepos Online (Jawa Pos Group), Irene meninggal dunia setelah berulang bolak-balik rumah sakit tersebut. Warga Kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura itu meregang nyawa pada Senin pekan lalu (17/11). Abraham Kabey sebagai kepala Kampung Hobong mengungkapkan kekecewaan atas kisah tragis Irene dan buah hatinya.
”Apa yang keluarga kami alami adalah hal yang sangat menyakitkan, kami dari kampung datang minta pertolongan medis, tapi tidak dapat pelayanan yang baik,” sesalnya.
Tak hanya Abraham sebagai tokoh masyarakat dari kampung tempat tinggal Irene, Neil Kabey sebagai suami juga sangat kecewa terhadap pelayanan rumah sakit yang sangat buruk. Dia heran karena tidak ada dokter yang bisa menangani istrinya ketika butuh pertolongan. Neil yakin, istri dan anaknya masih bisa diselamatkan jika ada tindakan dari dokter.
”Kalau saat itu di RSUD Yowari ada dokter, saya yakin istri dan anak saya masih hidup. Kenapa tidak ada dokter pengganti jika memang dokter saat itu tidak ada,” kata dia.
