Kesehatan
Apa itu toxic productivity? Saat terlalu sibuk justru merusak diri


Apa itu Toxic Productivity?
Toxic productivity adalah kondisi ketika dorongan untuk terus produktif berubah jadi racun pelan-pelan. Produktivitasnya bukan lagi alat, tapi cambuk. Seseorang merasa harus selalu sibuk, harus selalu menghasilkan, dan merasa bersalah saat istirahat, seolah jeda itu dosa kecil yang tak terampuni.
Apakah kamu adalah orang yang sangat bersemangat untuk bekerja dan selalu mencari kegiatan untuk dikerjakan, termasuk di waktu istirahat?
Seseorang dengan produktivitas yang tinggi dapat dikatakan memiliki kualitas yang baik, bahkan seringkali mendapat pujian dari berbagai kalangan. Namun, terlalu fokus pada produktivitas dalam pekerjaan dapat menjerumuskanmu pada kondisi yang dikenal sebagaiproduktivitas toksikApa ituproduktivitas toksik?
Secara sederhana, produktivitas toksik merupakan kondisi seseorang yang selalu berpikir bahwa dirinya harus terus bekerja agar menjadi produktif dengan cara apapun. Seseorang dengan sikap toxic productivity biasanya akan terus bekerja secara ekstra sekalipun pekerjaan tersebut tidak diperlukan.
Karena, ia akan merasa puas ketika telah menyelesaikan banyak pekerjaan. Bahkan jika tidak bekerja, ia akan merasa bersalah.
Di era media sosial yang serba cepat ini, kita sering menemukan narasi bahwa setiap detik harus menghasilkan sesuatu. Narasi ini tidak salah karena pada kenyataannya menjadi produktif dalam hidup memang sangat positif dan merupakan salah satu syarat untuk mencapai kesuksesan.
Namun, segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan tidak akan menghasilkan kesuksesan. Produktivitas toksik justru akan membahayakan kesehatan fisik dan mental.
Ciri-ciri toxic productivity antara lain adalah:
1. Merasa bersalah jika tidak melakukan pekerjaan apa pun, bahkan di hari libur.
2. Terobsesi dengan banyaknya daftar pekerjaan dan merasa gagal jika ada yang terlewat.
3. Merasa tidak pernah produktif meskipun sudah banyak meraih pencapaian.
4. Menolak waktu luang untuk melakukan kegiatan tambahan meskipun tubuh sudah terasa lelah.
5. Mengabaikan aktivitas-aktivitas yang terkait dengan kesehatan seperti berolahraga, makan, dan tidur demi menyelesaikan pekerjaan.
Lalu, langkah-langkah apa saja yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi produktivitas yang toksik?
1. Sadari bahwa kamu memiliki masalah!
Solusi utama dari setiap masalah adalah kesadaran akan diri sendiri. Jika kamu mengalami produktivitas toksik dan tidak menyadari bahwa kamu telah terjebak di dalamnya, maka kamu akan terus-menerus menyiksa diri sendiri.
Untuk itu, perhatikan dengan baik apakah ada tanda-tanda productivity yang berbahaya dalam dirimu. Salah satu tanda yang paling mudah kamu rasakan adalah munculnya rasa bersalah ketika sedang beristirahat dari pekerjaan.
2. Jangan terlalu banyak bertanya “Apa yang harus saya lakukan sekarang!”!
Langkah kedua yang harus kamu lakukan adalah jangan terlalu banyak bertanya ‘Apa yang harus saya lakukan sekarang?’. Sadarilah bahwa kebanyakan orang hanya melihat dan terkesan dengan pencapaianmu, bukan berapa jam dan sekeras apa kamu bekerja.
Jadi, kamu perlu mengatur kembali jam kerjamu sesuai dengan batasan dirimu agar kesehatan, waktu luang, dan hubungan dengan orang sekitar tetap terjaga.
3. Fokus pada kualitas, bukan kuantitas!
Salah satu jebakan terbesar dari produktivitas toksik adalah rasa puas saat berhasil menyelesaikan banyak pekerjaan (daftar tugas). Padahal jika diperhatikan, tidak semua pekerjaan yang telah diselesaikan berkaitan dengan tujuan utama kamu.
Untuk mengatasinya, kamu perlu mengubah pola pikir dari “seberapa banyak yang saya kerjakan” menjadi “seberapa bermakna hasil pekerjaan saya”. Karena, hasil yang baik tidak lahir dari multitasking yang terburu-buru, tetapi lahir melalui aktivitas bekerja secara mendalam tanpa adanya gangguan (deep work).
4. Lakukan perawatan diri dan hobi kamu!
Seseorang yang terjebak dalam bias produktivitas toksik biasanya tidak memiliki waktu untuk melakukan perawatan diri. Padahal dengan perawatan diri, kesehatan mental dan fisikmu akan terjaga dengan baik.
Ada beberapa aktivitas perawatan diri yang dapat kamu lakukan, seperti berolahraga, menulis, membaca buku, berlibur, bermain musik, merapikan wajah, dan sebagainya. Pada akhirnya, aktivitas menyenangkan yang kamu lakukan untuk dirimu sendiri akan berdampak pada produktivitas pekerjaanmu.
Menjadi produktif adalah hal yang membanggakan, tetapi tidak semua hal harus kamu kerjakan. Selama kamu telah menjadi manusia yang utuh dan bermanfaat, maka kamu harus bangga dengan dirimu sendiri. Jadi, sudahkah kamu bernapas lega hari ini?***










