Kesehatan
Flu Super ditemukan di Indonesia, apakah berisiko memicu pandemi seperti Covid-19? Ini kata epidemiolog

Klub Sehat Jakarta– Varian virus Influenza A (H3N2) subklade K, yang akhir-akhir ini disebut sebagai “super flu”, telah terdeteksi di Indonesia.
Berdasarkan hasil surveilans Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi.
Jumlah kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur.
Di tingkat global, virus yang dikenal menyebar dengan cepat ini juga memicu lonjakan kasus di sejumlah negara, dilaporkan dariBerita NBC(31/12/2025).
Di Amerika Serikat (AS), setidaknya 7,5 juta orang dilaporkan sakit sejak musim flu dimulai pada Oktober 2025.
DataPusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit(CDC) menunjukkan jumlah pasien rawat inap akibat flu hampir berlipat ganda dalam satu pekan, meningkat menjadi 19.053 pasien dari sebelumnya 9.944 pasien pada minggu sebelumnya.
Selain itu, sekitar 3.100 orang dilaporkan meninggal dunia akibat flu musim ini.
Jumlah kematian anak juga mengalami peningkatan, dari dua kasus menjadi lima kasus dalam periode yang sama.
Lalu, bagaimana pandangan epidemiolog mengenai munculnya “flu super” di Indonesia, dan apakah potensi penyebarannya berisiko memicu situasi serupa dengan pandemi Covid-19?
Apa itu “flu super”?
Ahli epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa flu super bukanlah nama ilmiah atau medis resmi.
Sebutan tersebut lebih merupakan istilah populer yang digunakan media dan masyarakat untuk menyebut subklade K, turunan dari virus Influenza A H3N2.
“Flu super sebenarnya adalah istilah yang diberikan oleh media dan masyarakat. Secara ilmiah, ini adalah subklade H3N2 dari Influenza A,” katanya kepadaKlub Kesehatan Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Ia menjelaskan, virus influenza terdiri dari empat tipe, yaitu influenza A, B, C, dan D.
Dari keempatnya, influenza A dan B merupakan jenis yang paling sering menyebabkan wabah musiman pada manusia.
“Untuk influenza A, yang paling dikenal adalah H1N1 dan H3N2. H1N1 pernah menyebabkan wabah besar pada tahun 1918, dan sekarang sudah menjadi endemik,” kata Dicky.
“Sementara H3N2 juga banyak menginfeksi manusia dan cenderung menimbulkan gejala yang lebih berat,” tambahnya.
Sementara itu, katanya, subklade K sendiri merupakan turunan lanjutan dari H3N2 yang pertama kali terdeteksi pada Juni 2025, termasuk di Eropa dan Jepang.
Berpotensi memicu situasi serupa seperti Covid-19?
Menurut Dicky, ada beberapa alasan mengapa subklade K disebut “flu super”.
Pertama, virus ini menyebabkan lonjakan kasus lebih cepat dari pola flu musiman pada umumnya.
“Biasanya flu meningkat di musim dingin. Tapi subklade K ini muncul satu bulan atau dua sampai tiga minggu lebih awal dari siklus biasanya,” katanya.
Selain itu, gejala yang muncul juga dinilai lebih berat, terutama pada kelompok rentan.
“Gejalanya lebih jelas, batuk lebih lama, lendir lebih banyak, nyeri menelan lebih parah. Pada lansia dan anak di bawah lima tahun, infeksinya bisa jauh lebih berat,” katanya.
Namun demikian, Dicky menegaskan bahwa tingkat kematian akibat subklade K masih jauh lebih rendah dibandingkan Covid-19 pada awal pandemi.
“Secara global, memang jutaan orang telah terinfeksi dan ratusan ribu mengalami kondisi berat. Tapi angka kematian masih jauh di bawah Covid-19,” katanya.
Kelompok rentan lebih berisiko terinfeksi
Namun demikian, Dicky memperingatkan bahwa risiko terbesar ada pada kelompok rentan.
Mereka yang berisiko termasuk lansia di atas 65 tahun, orang dengan penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan imunitas, serta bayi dan anak di bawah dua tahun.
“Pada kelompok ini, risikonya lebih besar. Banyak yang harus dirawat di rumah sakit dengan durasi rawat inap yang lebih lama, rata-rata tujuh hingga 14 hari,” kata Dicky.
Ia menilai kondisi tersebut sebagai alasan lain mengapa subklade K tidak bisa dianggap sebagai flu biasa, meskipun istilah “super flu” sendiri tidak sepenuhnya tepat secara medis.
Dicky juga mengatakan, salah satu masalah utama dalam menghadapi penyebaran flu, termasuk subklade H, adalah cakupan vaksin flu yang rendah, terutama di Indonesia.
“Litersasi vaksin flu di Indonesia masih sangat rendah. Hal ini menyebabkan kekebalan komunal tidak terbentuk dengan baik, sehingga virus lebih mudah beredar dan menular,” jelasnya.
Padahal, vaksin flu memainkan peran penting dalam menurunkan risiko keparahan dan kematian, terutama pada kelompok berisiko tinggi.
“Vaksin tidak hanya melindungi individu, tetapi juga menjadi penghalang penularan ke kelompok rentan,” tambahnya.
Menghadapi potensi peningkatan kasus di awal tahun, Dicky mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk segera melakukan vaksinasi flu.
“Untuk lansia di atas 65 tahun, vaksinasi masih sangat dianjurkan dan belum terlambat,” katanya.
Selain vaksinasi, ia juga menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama di tengah musim hujan dan tingginya mobilitas masyarakat selama liburan.
“Jika sedang sakit, sebaiknya tetap di rumah. Hindari kontak dengan bayi, lansia, dan orang yang memiliki kondisi medis lain. Lindungi anggota keluarga yang rentan,” tambahnya.









