Connect with us

Kesehatan

Mengapa baju dokter bedah berwarna hijau? Ternyata begini sejarahnya

AA21jtUb

Baju hijau yang dipakai dokter bedah tidak muncul begitu saja. Ada alasan ilmiah dan psikologis di baliknya.

Artikel ini pertama kali tayang di rubrik Usut Asal Majalah Intisari edisi Desember 2014

Intisari hadir di channel whatsapp, ikuti dan dapatkan berita terbaru kami di sini

Intisari-Online.com –Rumah sakit identik dengan warna putih. Anehnya, pakaian yang dikenakan dokter dan perawat di ruang operasi justru berwarna hijau. Mengapa bisa begitu?

Ini adalah sejarah mengapa baju dokter bedah berwarna hijau.

Dulu, pakaian dokter saat melakukan operasi atau bedah sama dengan pakaian sehari-hari mereka, yaitu berwarna putih. Namun pada awal abad ke-20, seorang dokter senior menyarankan untuk mengganti pakaian operasi dari putih menjadi hijau.

Alasannya, jika seorang dokter bedah menatap sesuatu berwarna merah dalam waktu yang lama, dia akan menjadi peka terhadap warna tersebut. Bahkan pada penglihatannya bisa muncul ilusi roda berwarna hijau di latar berwarna terang atau putih. Hal ini akan mengganggu penglihatan mereka ketika melakukan operasi.

Nah, dalam kondisi seperti itu, warna hijau akan sangat membantu. Karena hijau adalah warna yang berlawanan dengan merah pada urutan roda warna, maka ia dapat mengurangi ilusi tersebut. Selain itu, menurut ahli psikologi, warna hijau dapat menyegarkan mata setelah terus-menerus melihat warna merah atau darah di meja operasi.

Operasi pertama di dunia dilakukan tanpa anestesi

Mengutip Kompas.com, prosedur atau operasi bedah pertama dilakukan tanpa menggunakan anestesi. Bisa dibayangkan, seberapa sakitnya.

Operasi pertama di dunia diduga telah dilakukan sejak zaman purba, atau 4.500 SM. Hal ini diketahui dari tengkorak yang ditemukan dari masa ini.

Para ahli memperkirakan sudah ada dua jenis praktik operasi pada masa ini, yaitu operasi tengkorak dan menambal gigi. Ditemukan tengkorak dengan lubang di kepalanya.

Operasi ini juga disebut dengan trepanasi. Pada masa itu, operasi dilakukan tanpa anestesi.

Sebagai langkah pencegahan infeksi, mereka hanya menggunakan terpentin dan cuka. Alasan mengapa orang pada masa itu melubangi kepalanya tidak diketahui.

Dugaannya, lubang di kepala dipercaya bisa mengeluarkan roh jahat yang ada di dalam tubuh. Prosedur ini menyebar hingga ke Suku Maya di Amerika Selatan.

Suku Maya menggunakan teknik ini untuk mengobati sakit kepala.

Operasi yang kedua adalah menambal gigi. Mereka mengisi gigi yang berlubang dengan batu mulia, seperti giok, kuarsa, dan batu lainnya.

Pada masa 3000 SM, ilmu pengetahuan terus berkembang. Orang Mesir pada masa itu mencoba mengawetkan tubuh manusia dengan teknik mumifikasi.

Teknik ini digunakan sebelum membongkar isi tubuh manusia untuk mengetahui anatomi organ dalam manusia. Perkembangan operasi pada masa ini sudah berkembang.

Contohnya adalah pengobatan luka dan abses menggunakan klem, jahitan, dan kauterisasi. Alat-alat yang digunakan adalah gergaji, pisau bedah, dan gunting. Mereka menggunakan madu yang dioleskan pada luka untuk mencegah infeksi.

Ada budaya di India untuk menghukum seseorang dengan memotong hidung dan telinganya. Pada tahun 500 SM, ditemukan operasi rekonstruksi rinoplasti untuk membentuk kembali hidung yang telah dipotong.

Prosedur operasi yang sering dilakukan pada masa ini adalah mengeluarkan pus dan trepanasi. Dokumentasi menunjukkan bahwa pada era ini banyak orang yang mengalami gangren, yaitu kondisi jaringan yang mati dan menghitam.

Pendekatan operasi yang dilakukan hanya memotong jaringan mati tersebut terus-menerus, tanpa memotong tulangnya juga. Hal ini menjadi bukti bahwa pada masa itu, orang belum memahami manfaat amputasi untuk mencegah penyebaran jaringan mati dan infeksi.

Operasi modern dimulai pada tahun 1842. Sebelumnya, tidak banyak perkembangan yang berarti di bidang operasi ini.

Tahun 1842 menjadi sejarah karena merupakan pertama kalinya operasi dilakukan menggunakan anestesi. Operasi yang dilakukan saat itu adalah amputasi.

Perkembangan pesat operasi medis pada manusia terus berkembang pesat, terutama dengan pengetahuan anatomi dan sistem peredaran darah. Sejatinya, penelitian detail mengenai anatomi tubuh manusia telah dimulai sejak abad ke-17. Namun, baru selesai dan digunakan luas pada abad ke-18.